Feed on
Posts
Comments

TEMPATKU BERPIJAK

Sebuah cerita inspirasi

Berawal dari pagi yang cerah di Bulan Februari, tak ada firasat yangberarti saat itu. Kami duduk manis di bangku kelas seperti biasa mendengarkan guru biologi kami yang bersemangat menerangkan proses metabolisme dalam tubuh secara detil. Lalu tiba-tiba wajah sumringah guru BP muncul dari balik pintu bersamaan dengan sebuah amplop besar berlogo IPB di sudut atasnya. Refleks, sarafku menegang, aku yakin hal yang sama terjadi pada teman2ku yang juga mendaftar PMDK IPB (USMI), lalu bliau-pun berprolog yang rasanya saat itu waktu terasa merayap teramat pelan, saat itu rasanya seseorang menekan tombol slow motion dan pikiranku gelisah tak menentu. Bayangan-bayangan berkelebat dengan kecepatan cahaya dan kilasan kilasan masa depan hadir dengan abstrak. Dalam jeda yang singkat itu, aku mengembara dalam pikiranku.

Kelas 1 SMA, aku menemukan apa yang selama ini selalu kucari. Ingin jadi apa aku sebenarnya dan jalan apa yang harus kutempuh. Menggambar seakan bagian dari rutinitas sehari-hariku. Iseng, jenuh, bersemangat, drawing pen dan kertas HVS jadi sahabat baik yang menemaniku dengan setia. Aku tahu ada darah seni yang berdenyut dalam tubuhku. Tak kubiarkan denyut tersebut hilang dan kusambut dengan gembira segala sesuatu yang dapat menunjang hobi(atau mungkin bakat?)ku ini. masih kuingat jelas ketika umurku 5 tahun, aku mengobrak-abrik PAINT di komputer kantor TU. dengan muka cemas yang dibaluri senyum, setiap guru atau pegawai yang lewat memuji hasil karyaku yanng waktu itu berupa lukisan bunga bunga dan matahari yang memiliki wajah. Itulah awal pertemuanku dengan software grafis, yang rupaya meningkat pada arcsoft, adobe ps, corel, manga studio, dll. Mengutak atik dan secara otodidak mencari tahu cara kerjanya amat sangat menyenangkan. Ya, kelas 1 SMA-lah momentum dimana aku mengazzamkan diriku untuk menjadi seorang desainer grafis. Apalagi kulihat, dimensi multimedia ama membutuhkan makhluk makhluk yang memiliki kemampuan lebih dalam hal ini. jadi lapangan kerjanya amat luas karna mencakup berbagai aspek kehidupan. Jurusan DKV yang paling bagus ada di ITB, disanalah hatiku menjatuhkan jangkarnya. Aku mencari tahu banyak hal tentang DKV ITB. Akau jadi begiu terobsesi pada ITB. Aku mulai mencari berbagai link kesana dan betapabahagianya aku mendapat kakak-kakak DKV dari berbagai universitas yang berbaikhati menyempatkan waktu luangnya untuk memotivasiku, menguatkan aku dan berbagi cerita mengenai dunia DKV, juga teman-teman yang bertekad kuat untuk berjuang bersama dalam garis ini. Dukungan kuat dari orang tuaku membuatku bertambah yakin bahwa memang inilah yang terbaik.

ketika diberi kesempatan untuk mengikuti lomba di SABUGA aku terpekik gembira. Rasanya aku rindu sekali pada calon universitasku itu meski belum pernah bertemu. Rasanya aku telah memiliki ikatan kasat mata dengannya. Aku berdoa dengan khusyuk sambil menangis di sudut ruangan SABUGA dan photoku yang berada di berandanya kujadikan wallpaper agar menjadi pemecut semangat belajarku.

November kelas 3 SMA. Yaaa.., aku ingat saat amplop itu datang. Tidak, tidak mungkin undangan dari ITB sampai ke SMA pelosok seperti ini. dan memang belum pernah ada satupun siswa SMAku yang diterima di ITB. Amplop undangan PMDK itu dari IPB. Institut Pertanian Bogor. PERTANIAN? Ya. Pertanian. Aku acuh tak acuh. Toh aku cuma menargetkan universitas yang memiliki jurusan DKV dan Teknik Arsitektur saja. Tetapi karena di dorong oleh Ibuku dan desakan guru BP-ku, aku akhirnya mendaftar juga di IPB. Satu-satunya jurusan yang mendekati minatku hanya Ársitektur Lanskap’. Meskipun dari segi penerapan, tak ada kaitannya sama sekali dengan DKV. Aku tak berharap apapun. Konsentrasiku terpusat untuk UM ITB yang dilaksanakan di akhir bulan Maret. Ayahku sudah berjanji untuk memasukkanku ke bimbel khusus untuk DKV ITB di Bandung dan aku tak ingin menyia-nyiakan harapan yang selama ini telah kusimpan apik dalam hatiku.

Pikiranku kembali mendarat di kelas ketika sang guru BP mulai mengucapkan kata “yang diterima adalah…”lalu satu per satu nama disebut dan berbagai teriakan histeris terdengar. Aku menunggu dengan sabar, dengan jantung yang tak bisa kupungkiri, berdegup lebih rapid meskipun aku yakin lolos atau tidak diriku, tak akan berpengaruh apapun akan hubunganku dengan ITB. Dan voila! “Nur Hepsanti Hasanah di jurusan Arsitektur Lanskap!!” glekh! Itu aku! Dan teman sebangkuku langsung memelukku dengan gembira. Aku juga gembira…, hem… bagaimana rasanya saat itu?? Gembira tak keruan. Gembira…. tapi tidak juga sih, sedihh… tapi senang juga rasanya. Membingungkan benar saat itu, karna semua terjadi dengan cepat, ucapan-ucapan selamat dari para guru, sorai teman-teman, pelukan hangat orang tuaku…

Dan badai dimulai dari sini. Saat esoknya ibuku mengatakan bahwa aku sebaiknya tak usah ikut seleksi universitas apapun lagi, “syukurilah apa yang sudah kamu dapatkan. Ayo belajar bersyukur. Kesempatan PMDK lain yang kuotanya terbatas biarlah untuk teman-temanmu  yang lainnya” tambah ayahku

Rasanya aku habis makan batu karena tenggorokanku tiba-tiba sakit. Aku memohon HANYA untuk ITB saja, tapi kedua orangtuaku teteap menolak dengan berbagai alasan kuat yang ahirnya berujung pada kesimpulan yang sama. Aku merasa di khianati mentah-mentah. Dari situ aku mulai kacau karna keputusan orang tuaku tak dapat diutak atik lagi. Ya, aku mengerti kalau aku ikut seleksi universitas lain dan diterima, aku sebenarnya merebut kesempatan seorang murid SMA –yang entah siapa dia dan bagaimana latar belakangnya- untuk melanjutkan kuliahnya. Atau aku bertindak dzalim dengan membuang anugrah sebagai mahasiswi arsitektur lanskap IPB padahal mungkin ratusan orang lain begitu menginginkannya. Dan masih banyak temanku yang mengantri untuk bisa masuk universitas negeri dan aku tak mungkin aku ambil alih kesempatan mereka padahal aku sudah berhasil. Lagipula ini anugrah Allah karna aku tak perlu lagi pusing memikirkan langkah setelah lulus SMA dan bisa konsentrasi penuh untuk dapat nilai yang gemilang di UN. Bersyukur.. bersyukur… itu intinya kan?? Aku masih coba mengunyah kata-kata orangtuaku dan kuharap dapat kutelan dengan manis. tapi entah kenapa asam dan pahit yang kukecap.

Aku masih berat hati mengetikkan kata-kata penolakan pada teman-temanku yang mengajak untuk mendaftar ke ITB bersama-sama. Perutku rasanya di aduk-aduk ketika kakak-kakak menanyakan tentang persiapanku untuk ujian di ITB. Sempat aku berfikir gila untuk menjual HP-ku,mendaftar secara diam-diam, kabur dari rumah, pergi ke rumah saudaraku di Bandung dan ikut UM dengan tenang. Tapi hal itu akan 1000% sia-sia karna aku akan membuat khawatir seisi rumah dan mengecewakan orangtuaku atas tindakanku yang tidak dewasa. Lagipula, jangankan hanya untuk ikut UM, untuk berjihadpun jika tak ada izin dari dua orang paling berharga itu tak akan ada faidahnya.

Aku melunglai, semuanya terasa kacau dan hatiku campur aduk berhari-hari. Rasanya kepalaku akan pecah karena terus menerus memikirkan bahwa aku akan kehilangan kesempatan untuk meraih apa yang aku harapkan selama ini. rasanya aku akan mengkhianati dan mengecewakan seluruh dunia karna akhirnya aku tak mampu berbuat apa-apa atas cita-cita yang sudah kutekadkan selama 3 tahun!

Ku bawa kegelisahan itu ke rapat klub di Bogor, aku benar-benar tak keruan saat itu. IPB? Mahasiswa Pertanian?? Ah, terlintas di benakku saja tidak! Akan jadi apa aku disana?

Di bis perjalanan pulangku ke rumah, seorang gadis pengamen yang sebaya denganku menarik perhatianku. Rambutnya pendek dan kumal, badannya kurus dan bajunya tak keruan, suaranya menunjukkan ketidakniatmenyanyi-an. Tapi yang paling membuatku teriris adalah sorot matanya yang terlihat sedih, pasrah, tak berdaya, kesal, letih, dan kosong. Sorot mata yang menunjukkan bahwa tak ada sinar matahari dan bunga-bunga bermekaran yang menunggunya di masa depan, tak ada harapan membuncah yang membuatnya tetap bersemangat dan optimis menjalani hidup. Ia telah menjalani hidup yang amat keras shingga ia terlalu lelah untuk menangis atau mengeluh. Sesuatu menggumpal di ulu hatiku. Ada yang membuat mataku panas sehingga bulir-bulir itupun berjatuhan. Saat itu aku merasa seperti makhluk terkufur di dunia. Aku terlalu congkak untuk bisa menyadari bahwa Allah telah mencurahkan jutaan milyar nikmat-Nya untukku, Allah telah memberikan rimbunan kasih-Nya untukku, dan ada ribuan remaja sebayaku yang tidak memiliki kesempatan seperti aku ini. 1 gumpalan perlahan-lahan lenyap dari hatiku.

Malam itu, tilawahku sampai ke surat Ar-Rahman, dan secara langsung, Allah mengurku berkali-kali atas keegoisanku selama ini. Fabiayyi ala irabbikuma tukadz dziban?? Dan Nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kau dustakan?? Aku terpekur, karna keesokan harinya teguran itu hadir kembali di halaqahku yang sedangmembahas tentang kandungan Al-Qurán surat Al baqarah ayat 126. Allah lebih tahu dibanding siapapun mana yang paling baik untuk umat-Nya. Karna Allah tahu, sedangkan manusia tidak tahu. Gumpalan lainnya pun lenyap beraturan.

Aku shalat istikharah. Jalan keluar terbaik yang pernah ada karna Allah Sang pemegang kekuasaan terbesar akan dengan lembut membisikan yang terbaik dan menenangkan hatiku seutuhnya. Luar biasa sekali karena malamnya, aku bermimpi berdiri di depan sebuah bangunan besar berbentuk segitiga. Aku tidak ingat bagaimana detilnya bangunan tersebut, tapi akhirnya aku terhenyak sadar. Bangunan itu adalah gedung REKTORAT IPB.

Maka habislah sudah ganjalan-ganjalan dan batu besar yang selama ini menindihku dengan sadis. Ada angin lembut berhembus dengan amat sejuk dan semuanya mulai terasa ringan. Amat sangat ringan sehingga tak ada lagi berton-ton besi di jari-jariku untuk mengetikkan betapa bersyukurnya aku dapat diterima di IPB. Aku yakin ilmu grafis juga akan kudapatkan di Arsitektur Lanskap. Atau bilapun tidak akupun akan mempelajarinya sendiri seperti dulu, aku akan terus berjuang untuk tetap menggapai impianku. Aku akan ikhlas atas keputusan Allah dan membuatnya menjadi keputusanku juga. Toh, manusia hanya bisa membuat rencana. Tapi rencana Allah-lah yang terindah untuk kita…

Dan sekarang aku berada disini, IPB-lah tempat aku berpijak saat ini. IPB-lah tempat aku harus memahatkan berjuta prestasi, IPB-lah tempat aku menuliskan lembaran terindah bersama teman-teman, dan di IPB-lah aku akan menenun benang benang mimpiku dan mewujudkannya dengan penuh kegemilangan.

Kuucapkan selamat tinggal dengan senyum terhangat pada DKV ITB, dan iapun terhapus lembut dari bayanganku.

Sebuah Cerita Inspirasi

Mungkin pengalaman ini hanya sekelumit pengalaman sepele yang biasa terjadi sehari-hari dalam hidup kita. Tapi entah kenapa yang satu ini sangat membekas dalam pikiranku. Pengalaman yang cukup aneh antara aku dan seekor kecoa yang akhirnya kupetik hikmah dengan bijak dan kujadikan inspirasi untuk menyemangati hari-hariku.

Asrama Putri TPB IPB menjadi tempat tinggalku sejak tanggal 28 Juni 2010. Suasananya yang cukup nyaman dan fasilitasnya yang lumayan membuatku betah untuk berada disana meskipun minus besar untuk keadaan kamar mandinya. Banyak terjadi kerusakan dan mampet disana-sini yang akhirnya mengganggu mobilitas para penghuninya.

Di suatu pagi yang cerah, aku pergi mandi dan tersisa satu kamar mandi di pojok sebelah kiri. Baru saja kugantungkan handukku, tiba-tiba muncul seekor kecoa besar yang gemuk dari balik pintu. Teriak histeris?? Ohh tidak tidak! Aku bukan tipikal perempuan yang akan menjerit-jerit tak keruan hanya karna ada seonggok serangga dihadapanku. Hanya saja mau tak mau aku harus mengusirnya karna aku tak betah ada makhluk lain (apapun itu) yang mengganggu ritual penting di pagi hariku itu.

Luas kamar mandi yang hanya 1,5 mX1,5 m mempersempit ruang geraknya. Sebenarnya aku tak yakin ia kecoa, karna ia sangat menghindari sinar, kulitnya bersisik lebih tebal dan tubuhnya agak gemuk di banding kecoa normal. Ku banjur dia dengan air dan aliran airnya kuarahkan ke lubang pembuangan. Tetapi anehnya ia tak bergerak sedikitpun dari tempatnya meskipun telah kusiram segayung penuh. Mungkin perekat di kakinya kuat. Dan dia menempel di ujung ubin sehingga reliefnya jadi tidak licin. Kubanjur lagi dengan lebih kuat, dia goyah sedikit tapi tidak bergeser terlalu jauh. Aku jadi gemas. Kubanjur berkali-kali dan dengan konsisten, kuarahkan ia yang terombang ambing tak berdaya ke arah lubang pembuangan, tetapi usahaku tak membuahkan hasil. Ia berlari dengan cepat dan menempel kembali ke sisi ubin. Aku gemas.

Kuisi ember sepenuh mungkin dan langsung kutumpahkan seisi ember itu agar arus menjadi kuat dan dia akan secara otomatis terarah ke lubang pembuangan dan mengakhiri perang ini. kulihat dia kelelahan karna larinya menjadi amat lambat, dan kemungkinan besar perutnya amat kembung karna tenggelam oleh arus, dia sudah berada di bibir lubang pembuangan tepat ketika air di emberku habis. Dengan jeda waktu mengisi ember dengan air, ia bergerak pelan ke ujung untuk berlindung. Kuulangi lagi hal tersebut. Dia makin kepayahan tapi tak kunjung masuk ke dalam lubang. Di ember 3 terus seperti itu dan kegemasanku berubah menjadi kesal. Aku berniat untuk menghancurkannya dalam sekali hempasan gayung sampai aku sadar bahwa dia sangat gesit. Gayungku menabrak lantai 3 kali dan menghasilkan suara yang cukup gaduh. Aku tak ingin mengundang tanya teman-teman di kamar mandi sekelilingku. Lagipula aku akan jijik memakai gayung bekas tertempel organ-organ dalam sang kecoa itu, sementara tak ada gayung yang lainnya.

Aku terdiam. Sang kecoa gendut agaknya memandangiku dan mencemoohku.

“apalagi rencanamu kali ini, heh?”kurasa ia bilang begitu.

Ketika aku terdiam, dia dengan cepat bergerak mendekatiku dan merayap ke kakiku, aku terpekik tertahan dan kukibas-kibaskan kakiku sehingga ia kembali menempel di lantai. Entah kenapa aku jadi begitu takut dan kecoa ini terlihat amat menyeramkan. Kubanjur lagi ia berkali kali terus menerus sampai ia terlihat kelelahan lagi. Tapi toh aku-pun jadi ikut cape. Entah kenapa meskipun aneh, tapi aku mulai merasa ia menantangku. Kenapa ia tak menyerah saja? Tidakkah ia cape? Apakah dia sangat menyukai kamar mandi ini sehingga tak mau dengan mudah pindah ke kamar mandi yang lain?

Kuulangi lagi aksi siram dengan kecepatan dan arus yang deras terus menerus. Dia makin kelelahan dan cengkeraman kakinya dari ujung ubin terlepas. Aku terpekik gembira karna akhirnya ia masuk ke dalam lubang pembuangan!! HOH! Selamat tinggal!! Kenapa tidak dari tadi saja? Toh akhirnya kamu akan kalah juga! Toh kamu hanya makhluk kecil tak berdaya! Aku mendengus kesal, sampai beberapa detik kemudian aku melotot karna dua buah antena menyembul dari lubang. YA AMPUN! Si kecoa tadi berpegangan pada dinding atas lubang! Ia keluar lagi dan kembali mencengkram lantai. Menatapku tajam.

Aku kesal dan kagum luar biasa. Tapi aku tidak tahan lagi untuk melawannya. Kuintip keluar dan kulihat kamar mandi di sebelahku kosong.

Lihat?

Aku menyerah. Aku yang pindah kamar mandi dan membiarkan si kecoa gembira dengan kemenangan besarnya karna dengan gemilang telah membuat seorang manusia yang tentu saja diciptakan dengan akal dan kemampuan yang amaaat jauuuh lebih baik dibanding dia tertunduk mengalah.

Dari situ aku tersenyum sendiri. Entah kenapa kurasa pengalaman dengan kecoa gendut tadi luar biasa. Entah akunya yang bodoh dan kehilangan akal sehingga tak bisa mengalahkannya, tapi aku menarik pelajaran yang luar biasa. Selama ini aku selalu mengeluh dan mengeluh tentang kegiatanku, betapa aku letih bolak balik kesana kemari dan tak dapat meluangkan waktu untuk belajar. Betapa aku kesal karna rasanya berbagai beban berat menindih pundakku dan memaksaku untuk menyerah. Betapa aku cape karna rasanya sulit sekali untuk konsisten terus berjuang untuk mencoba meraih apa yang aku inginkan. Lihatlah, kecoa. Mahkluk sekecil itu, makhluk yang sepele, tak berguna, hama yang menjijikan dan dibenci, ternyata mampu memperlihatkan TOTALITAS PERJUANGAN. Ternyata ia punya semangat yang jauh lebih hebat dariku untuk terus bertahan hidup, ia punya kekuatan untuk terus berjuang meskipun lawannya mustahil untuk dikalahkan. Dan ketika sudah sampai akhir batas pertahanannya, ia tetap mampu untuk mengeluarkan kekuatan terakhir untuk terus bertahan. Ketika sampai puncak masalah dan dia sudah berada di jurang kematiannya, ia tak langsung pasrah, tetapi mengeluarkan sisa-sisa tenaganya! Meskipun seandainya dia kalah dan matipun, setidaknya dia telah berjuang sampai akhir.

Mengagumkan! Dan itulah inspirasiku, sesuatu yang sepele dan rasanya tak berharga untuk dikenang itu telah menjelma menjadi pecut untuk mengingatkanku bahwa aku adalah ciptaan Allah yang terbaik. Aku telah diberi berbagai kelebihan yang harusnya membuatku tak kalah bersemangat untuk menjalani hidup ini dari kecoa itu. Mungkin kecoa itu adalah bukti nyata akan teguran Allah untukku atas kelalaian dan keluhanku selama ini.

Dari hal ini, aku harap teman-teman dapat menarik hikmah atas setiap kejadian yang telah kita lalui. Sesungguhnya terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah dalam setiap hal sekecil apapun itu. Dan sesunggguhnya, hikmah tersebut bisa menjadi inspirasi yang akan menguatkan setiap langkah kita. J